...::: Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh :: Selamat datang di Masmuji Blog :::...

...::: ALL ABOUT EMOTIONAL INTELLIGENCE :::...: May 2007

25 May 2007

Kecerdasan Optimal

Kesuksesan seseorang, ternyata sebanyak 80 persen ditentukan oleh kecerdasan
emosinya (EQ), sementara kecerdasan intelektual (IQ) hanya memberikan
kontribusi peran sebesar 20 persen. Seperti apakah kecerdasan emosi itu? Tulisan
ini merupakan bagian kesatu dari tiga tulisan

Sebuah kisah tragis telah menimpa seorang siswa kelas dua SMU, beberapa tahun yang
lalu. Seorang pemuda rajin dan pandai, yang disukai teman-temannya karena pandai
bergaul. Ia pun terkenal aktif dalam kegiatan ibadah dan dakwah Islam di kepengurusan
OSIS di sekolahnya. Melihat catatan kepribadiannya yang begitu positif, wajar jika
seluruh guru dan temannya tak bisa mempercayai ketika suatu saat diketemukan si
pemuda alim telah menjadi mayat karena melakukan gantung diri di kamar mandi
rumahnya!
Bahkan ayah, ibu dan saudara-saudaranya pun masih belum bisa mempercayai
kenyataan tersebut, walau telah membaca berpuluh-puluh kali rangkaian kalimat yang
dituliskan si pemuda dalam surat ia tinggalkan di meja belajarnya sebelum mengambil
keputusan mengenaskan itu. Dalam surat terakhirnya itu si pemuda mencoba
menuturkan kesedihan dan kekecewaan batinnya yang amat sangat mendalam, karena
telah gagal memenuhi janjinya kepada Allah swt dan terhadap dirinya sendiri.
Ia kisahkan bahwa sejak sepuluh hari sebelumnya, ia telah membuat janji kepada Allah
swt, akan melaksanakan shalat tahajjud selama sepuluh hari. Begitu bersemangatnya si
pemuda berinisiatif mengikat janji tersebut, karena termotivasi dari kegiatan training
pembinaan keagamaan yang baru saja dilakukan para mahasiswa yang membina
kegiatan remaja masjid di daerah permukimannya.
Namun rupanya ghirahnya ber-Islam tersebut tidak sempat terbimbing dengan benar,
hingga ketika ternyata ia berulang-ulang gagal untuk bangun pada malam hari, dari hari
pertama hingga hari ke sepuluh, seperti yang telah ia azzam-kan, maka kekecewaan
hatinya pun benar-benar tak terbendung lagi. Ia pun mengalami depresi akibat tumpukan
rasa berdosa yang sangat parah dan perasaan tak berguna dalam dirinya. Saat itulah,
kondisi emosi menjadi lebih berperan mengalahkan pikiran rasional. Karena emosi si
pemuda ternyata belum cerdas, maka iapun memilih jalan pintas dengan maksud
menebus kesalahan yang telah menghimpit perasaannya.
Kisah tragis yang dialami pemuda alim tersebut memberikan pembelajaran kepada kita
tentang begitu pentingnya peran kecerdasan emosi dalam menentukan jalan hidup
seseorang. Sepintar apapun intelektual (IQ) seseorang, bisa menjadi tak berarti jika tak
dibarengi kecerdasan emosional(EQ).

Apakah itu kecerdasan emosional?
Mari kita bayangkan sebuah kejadian, ketika anak-anak sedang melalui kewajiban untuk
mengikuti ujian akhir sekolah. Sebelumnya, mereka telah berusaha belajar berbulan-
bulan di bawah bimbingan guru, dan mengerjakan beratus-ratus soal-soal latihan. Pada
hari pelaksanaan ujian, mereka merasa mantap dengan persiapan yang telah dilakukan
selama ini.
Kesiapan mental mereka ternyata mulai goyah setelah mulai membaca soal-soal ujian
yang dibuat oleh sekolah lain. Ternyata model soal serta materi yang ditanyakan di sana
sangat jauh berbeda dengan apa yang selama ini diajarkan oleh guru mereka! Tentu
saja, anak-anak pun kelabakan menghadapinya.
Seorang anak segera mengalami down, kejatuhan mental karenanya. Timbul perasaan
kecewa yang sangat berat karena ternyata persiapan matang yang sudah dilakukan
selama ini salah dan tak berguna. Tiba-tiba kepalanya terasa pusing, wajahnya tegang,
dan hafalan-hafalan rumus yang semula sudah lekat di kepala pun tiba-tiba hilang tak
bersisa. Ia menghabiskan waktu dengan mencoret-coret lembar jawaban, terus-menerus
mendesah dan mengeluh jengkel, sambil melirik kanan kiri, melihat reaksi teman di




kanan kirinya, berharap ada teman yang sama bingungnya dengan dirinya. Akhirnya ia
pun menyelesaikan ujiannya dengan hampir separuh soal tak terisi.
Anak yang lain bereaksi dengan mencoba meredam keterkejutannya, melihat betapa
sulit soal yang dihadapinya. Ia menarik nafas panjang, menegakkan punggungnya, dan
berusaha menenangkan hatinya. Sempat timbul keraguan, bisakah ia mengerjakannya?
Namun hati kecilnya cepat menepis keraguan itu. Ia berusaha meyakinkan dirinya
sendiri, bahwa ia telah berusaha sebaik mungkin untuk belajar. Diingatnya pesan ibunya,
bahwa Allah menilai berdasarkan seberapa besar usaha seseorang, bukan seberapa
besar hasilnya. Maka ia pun mulai mencoba membaca dengan hati-hati soal demi soal
dengan tenang, dan mencoba menjawab sebatas kemampuannya. Ternyata, ia bisa
menyelesaikan seluruh soal yang ada, walaupun banyak yang diisinya penuh keraguan,
namun ia tak membiarkannya kosong tak berisi, karena bukankah mencoba mengisinya
masih lebih baik dari pada tidak diisi sama sekali?
Dalam kisah di atas, anak sedang dihadapkan kepada situasi yang menegangkan dan
menimbulkan kekecewaan serta kekhawatiran yang mencekam. Dan kedua anak telah
menunjukkan dua reaksi emosi yang berbeda dalam menghadapinya. Anak pertama tak
mampu mengatasi stress yang dialaminya, sehingga ia tak bisa mengontrol kepandaian
otak rasionalnya. Sebaliknya anak kedua mampu mempertahankan kestabilan perasaan
dan emosinya dalam menghadapi ketegangan tersebut, sehingga berhasil menguasai
otak rasionalnya. Ia telah memiliki emosi yang cerdas, yang akhirnya menyelamatkan
nasibnya dalam ujian tersebut.
Dalam sisi kepribadian manusia, ternyata terdiri dua dimensi yang berbeda, yaitu sisi
rasional dan sisi emosional. Sisi rasional menyangkut kemampuan manusia dalam
menghitung, meneliti, memikirkan sebab akibat, menjalankan mesin dan memproduksi
sesuatu. Sementara sisi emosional membawa nuansa perasaan, menyangkut suasana
hati gembira, sedih, kecewa, tegang, takut, hingga pasrah.
Seberapa mampu seseorang mengatasi kesedihan, ketakutan dan mengelola berbagai
sisi emosi dalam dirinya itulah yang disebut kecerdasan emosi. Mereka yang emosinya
cerdas, ia akan tahu dan mampu menata perasaannya, kapan ia harus marah, sedih
atau kecewa, dan kapan pula ia boleh gembira.
Selain mampu mengelola emosi diri sendiri, anak yang emosinya cerdas pun pandai
memahami keadaan orang lain. Mereka mudah merasakan kesedihan dan kekhawatiran
yang dirasakan temannya, sehingga tumbuh empati mereka untuk menghibur teman
tersebut. Terhadap teman yang sedang jengkel, marah dan mengejek dirinya pun ia
mudah memaafkan.
Kepandaian dalam bersosialisasi, termasuk salah satu aspek kecerdasan emosi. Anak
pandai bergaul, tidak pemalu, dan cenderung mengutamakan orang lain, setelah
kepuasannya sendiri tercukupi. Mereka yang sangat cerdas emosinya bahkan memiliki
kemampuan untuk memimpin teman-temannya, dijadikan panutan dan disukai banyak
teman.

80 versus 20
Contoh perbedaan reaksi anak dalam menghadapi ujian di atas, cukup memberikan
gambaran bagaimana kecerdasan emosi memberikan peran yang amat besar untuk
menentukan berfungsi tidaknya otak rasional. Anak pertama yang tak memiliki
kecerdasan emosi memadai, akhirnya tak mampu mengendalikan stressnya hingga otak
rasionalnya tak bisa berfungsi sempurna. Intelektualitasnya telah dikuasai dan
dikalahkan oleh emosinya yang sedang buruk.
Contoh kemampuan anak kedua dalam mengendalikan stress, cukup memberikan
gambaran betapa besar peran sisi emosi ini dalam mengendalikan intelektualitas
seseorang. Mudah dipahami, bahwa Daniel Goleman, sang pakar kecerdasan emosional
mengungkapkan dalam bukunya, Emotional Intelligence, bahwa perbandingan peran
antara kecerdasan emosional dibanding kecerdasan intelegensi dalam menentukan
kesuksesan hidup seseorang adalah setara dengan perbandingan 80 : 20.




Bagaimana EQ melejitkan IQ
Anak yang memiliki emosi cerdas, akan mengambil tindakan cukup simpatik ketika
dihadapkan pada situasi yang menegangkan. Mereka bisa mengendalikan emosi ketika
ketegangan muncul saat menghadapi soal-soal ujian yang luar biasa sulitnya. Mereka
mampu menenangkan kekalutan jiwanya, kemudian mencoba berpikir jernih dalam
mengambil tindakan selanjutnya.
Kemampuan si anak mengelola emosinya, telah memperbaiki hasil nilai ujiannya,
sehingga ia mampu meraih peringkat tinggi di kelas. Sementara temannya yang tak
mampu mengelola emosinya dengan baik, begitu gugup dan jatuh mentalnya dalam
mengerjakan soal ujian, hingga pikirannya tak mampu mengingat rumus-rumus yang
sebelumnya sudah ia hafal di luar kepala. Kejadian ini cukup memberikan gambaran,
bagaimana kecerdasan emosi anak bisa turut menentukan tingkat kecerdasannya.
Selain itu, mereka yang memiliki EQ tinggi, adalah mereka yang mengetahui persis
kelemahan dirinya. Hanya mereka yang tahu kelemahan dirinyalah yang punya modal
untuk memperbaiki diri. Kalau seseorang yang pemarah tak mau dikatakan pemarah,
yang mudah tersinggung pun selalu tersinggung jika orang lain mengkritiknya, jangan
diharap bisa melakukan perbaikan diri. Itu sebabnya, kecerdasan emosional merupakan
syarat utama bagi mereka yang ingin memperbaiki diri dan ingin meningkatkan kualitas
potensi sumber daya manusianya.
Mereka yang EQ-nya terasah, akan memiliki satu atau beberapa dari banyak karakter-
karakter mental yang positif, seperti sabar, rajin, ulet, pantang putus asa, percaya diri,
tenang, supel hingga tawadhu'. Dengan adanya sifat-sifat positif ini, akan lebih mudah
lagi mencapai peningkatan intelektual (IQ). Sebaliknya, setinggi apapun IQ, bisa tak
berfungsi jika tak memiliki sifat-sifat positif tadi.• (Ummu Zif)•

disarikan dari : www.geodesy.gd.itb.ac.id

15 May 2007

Fenomena Friendster.Com & Testimonials


�Kamu ikut Friendster?� atau �Kirim aku testimonial donk.� Seperti itulah kira-kira pertanyaan dan permintaan yang sering dilontarkan. Percaya atau tidak, karena sangat ngetrendnya Friendster hingga yang biasanya jarang menggunakan internet, bisa menjadi berinternet ria. Atau yang semula gaptek internet menjadi ingin belajar internet karena sangat ingin bergabung dengan situs ini, bahkan orang-orang yang belum ikut Friendster bisa dicap �tidak gaul'

Friendster bisa digunakan untuk memperluas jaringan dengan manusia di seluruh dunia dan menjalin hubungan yang hampir memudar dengan teman-teman kita. Sampai-sampai kita bisa bertemu kembali dengan teman-teman semasa di SD, SMP, SMU, dan seterusnya. Friendster tidak hanya digunakan oleh individu, tetapi bisa juga oleh lembaga.

Friendster.com tentu bukan situs haram karena substansinya ia hanyalah fasilitas, dan halal haram sangat tergantung bagaimana kita menggunakannya. Bila kita bergabung karena ingin menjalin silaturahim dengan teman-teman, tentu tidak masalah, justru berpahala. Namun bisa menjadi masalah bila ternyata digunakan untuk mencari cewek/cowok ganteng, bertemu kecengan semasa SMU, menonjolkan kelebihan identitas diri, pamer ketampanan/kecantikan di picture, dan lain-lain, nah ini nih yang harus diluruskan; niat dan caranya.

Banyak kalangan telah masuk ke situs ini, termasuk kalangan aktivis da'wah yang tak mau ketinggalan untuk memanfaatkannya sebagai ajang silaturahim dengan sesama aktivis maupun teman-teman da'wah fardiyah agar kian erat di dunia maya dan di dunia nyata. Perkembangan teknologi memang sudah seharusnya digunakan untuk memperluas basis da'wah.

Namun ada satu hal yang perlu diperhatikan ketika bergabung dengan Friendster.com, yaitu pada testimonial atau kesaksian. Di sini biasanya seseorang memberi kesaksian tentang temannya. Dan berdasarkan pengamatan penulis, jarang sekali didapati isi testimonial itu berupa hal-hal yang buruk, umumnya adalah pujian-pujian yang bisa melenakan si penerima. Terlepas pujian itu jujur atau bohong, yang jelas PUJIAN sudah dilontarkan dan si penerima meng-approvenya.

Ketika seseorang menerima testimonial, tentu sebelumnya ia sudah mengetahui isinya. Lantas, layakkah pujian itu ditampilkan di depan khalayak? Apatah lagi bila sampai mengoleksinya! Mengoleksi pujian� Astaghfirullah, ya Rabbi�, sungguh bisa membuat hati kotor. Rasulullah saw bersabda, �Taburkanlah pasir ke wajah orang yang suka memuji-muji.� Mintalah fatwa pada hatimu, tentu engkau rasakan kegelisahan karena mengoleksi pujian. Cukuplah amal-amal itu tersiar di kalangan penduduk langit saja.

Itulah yang harus dilakukan dari sisi si penerima pujian. Sedangkan dari sisi si pemberi pujian, �Seorang memuji-muji kawannya di hadapan Rasulullah saw, lalu beliau berkata kepadanya, �Waspadalah kamu, sesungguhnya kamu telah memenggal lehernya, sesungguhnya kamu telah memenggal lehernya (diucapkan berulang-ulang).� (HR.Ahmad)

Mengapa dikatakan �memenggal leher'? Karena hakekatnya, pujian itu bisa melenakan si penerima. Bila tak kuat iman, pujian bisa membuatnya ujub (bangga diri), riya (ingin dipuji), sum'ah (ingin kebaikannya tersiar), sehingga hapuslah pahala-pahalanya dan membuatnya masuk neraka. Bayangkan, saudara kita yang semula telah sejengkal lagi memasuki surga menjadi terhempas ke neraka akibat ujub, riya, dan sum'ahnya muncul ke permukaan. Dan itu disebabkan pujian kita. Karena itu kasihanilah saudaramu, alangkah baiknya bila kita mengisi testimonial itu dengan tausiah (nasehat) kepadanya. Ini akan lebih menjaga saudara kita. Cukuplah pujian dan wujud kekaguman itu disimpan dalam hati kita masing-masing hingga akhir perjumpaan kita dengan-Nya, hingga kemenangan hakiki menuju surga tercapai.

Akhirnya, fenomena Friendster harus disikapi secara bijaksana dan diarahkan untuk mempererat silaturahim dengan saudara-saudara kita di seluruh penjuru dunia. Testimonials adalah bagian dari Friendster, namun bila ternyata testimonial dapat menjerumuskan saudara kita, adalah lebih baik dihindari. Jika engkau mencintai saudaramu-saudaramu karena Allah dan inginkan keselamatan akhirat mereka, please forward this article to them. Jazakumullah. (AW) Disarikan Dari : Dudung.net

10 May 2007

Kecerdasan Akademik vs Kecerdasan Emosional


Mana lebih penting, kecerdasan akademik atau kecerdasan emosional? Sebagian besar orang tua pasti akan sangat bangga jika anak-anak mereka cerdas dalam bidang akademik. 'Anakku matematikanya 9 lho di raport", kata seorang Ibu atau "Anakku sudah menguasai dan lancar berkomunikasi dalam Bahasa Inggris sejak kecil, kata Bunda yang lain atau "Wah, kalau anakku, main pianonya sudah top deh," seorang ibu tak mau kalah.

Tapi pernahkah kita dengar seorang ibu yang bangga jika anaknya memiliki kecerdasan moral, kecerdasan intrapersonal atau kecerdasan interpersonal? Hmm rasanya sih, 3 kecerdasan yang terakhir itu, hampir bisa dipastikan tidak masuk hitungan dan sudah pasti tidak ada nilainya di raport atau di sekolah.

Anak-anak dengan nilai akademik tinggi, selalu mendapat perhatian dan kasih sayang lebih dari para orang tuanya dan hampir bisa dipastikan selalu menjadi topik yang hangat dibicarakan jika ada pertemuan keluarga atau lepas kangen dengan teman-teman lama dan membahas soal anak.

Sangat membanggakan jika menceritakan anak-anak yang berhasil menjadi dokter, insinyur, ahli kimia, biologi, dsb daripada anak-anak yang memiliki kecerdasan emosional. Mengapa? Pastinya gengsi lebih meningkat dong, dan karena anak-anak yang memiliki kecerdasan emosional tidak pernah dianggap dan tidak masuk hitungan, bahkan di raport pun tidak pernah ada nilai untuk kecerdasan emosional.

Banyak orang tua yang merasa rendah diri, ketika anaknya tidak masuk ranking sepuluh besar di sekolahnya. Tapi, para orang tua tidak merasa rendah diri ketika anaknya tumbuh menjadi anak-anak yang memiliki kepribadian egois, mau menang sendiri, sensitif, sombong, suka menipu dan tidak biasa bergaul.

Padahal disadari atau tidak, di setiap penerimaan test pegawai, justru yang lebih banyak diterima adalah orang-orang yang memiliki kecerdasan emosional walaupun dari sisi kecerdasan akademik, masuk dalam golongan biasa-biasa aja.

Saudaraku pernah cerita, dia yang kemampuan akademiknya biasa-biasa aja, sempat tidak percaya diri pada saat harus bersaing dengan salah satu temannya yang prestasi akademiknya bisa dibilang luar biasa, tapi akhirnya mereka diterima di satu perusahaan yang sama. Pada akhirnya malah saudaraku karirnya lebih menanjak daripada temannya yang pintar itu, karena ternyata temannya yang luar biasa pintar itu, hanya pintar text book, pintar akademik, tapi tidak luwes dalam pergaulan. Sedangkan kita semua tahu, tak cukup dengan modal pintar saja kalau kita ingin karir kita gemilang kan? Tapi bukan berarti lalu jadi penjilat, sikut sana-sini lho ya, ini sih sudah pasti tidak cerdas secara emosional :D.

Kasus lain yang pernah aku baca di sebuah majalah wanita, tentang seorang anak yang ditinggal ART-nya pulang kampung, menulis surat kepada mbaknya, isinya permohonan maaf kalau selama ini si anak sering merepotkan si mbak. Buatku pribadi, anak yang bisa seperti ini adalah luar biasa! Anak yang pintar akademik itu bicara hal yang cukup mudah, anak tekun belajar atau memang ada bakat atau ada turunan pintar, biasanya si anak akan pintar juga. Tapi kepintaran emosional tidak ada sekolahnya. Bahkan (maaf) lulusan pesantren atau sekolah teologi atau yang mendasarkan pada tiang agamapun tidak menjamin lulusannya akan memiliki kecerdasan emosional.

Tak membuat terharu dan banggakah, jika suatu hari, guru sekolah bercerita kepada kita, orang tuanya, kalau anak kita senang membantu teman-temannya di sekolah atau mendamaikan dua orang temannya yang bertikai atau lebih memilih membagikan apa yang ia punya untuk temannya yang kurang mampu?

Benarkah hanya kecerdasan akademik anak, cucu, dan ponakan yang membuat bangga kita sebagai orang tua, kakek-nenek,om-tantenya ?

Sudah pasti aku sebagai Bunda dan pasti orang tua-orang tua lain pasti akan sangat bersyukur jika anaknya memiliki kecerdasan akademik plus punya kecerdasan emosional juga kan?

Nah ini PR besar buat buat para orang tua lainnya. Sudahkah kita mencoba untuk menggali potensi-potensi kecerdasan emosional anak-anak kita? Kalau belum yuk kita coba mulai dari anak kita dan saat ini juga.

Disarikan Dari : wrm-indonesia.org.

KECERDASAN SCHOLASTIC vs KECERDASAN EMOSIONAL

Aku Biasa - Biasa Aja !

Tahukah anda, apa yang paling dibanggakan orang tua dari anak-anaknya?
Boleh jadi adalah kecerdasan scholastic, seperti matematika, bahasa,
menggambar (visual), musik (musical), dan olahraga (kinestetik).

Tetapi, pernahkah kita membanggakan jika anak kita memiliki kecerdasan
moral, kecerdasan intrapersonal, atau kecerdasan interpersonal?

Rasanya jarang, sebab ketiga kecerdasan yang terakhir hampir pasti
uncountable, tidak bisa dihitung, dan sayang sekalin tidak ada pontenya
(nilainya) di sekolah, karena di sekolah hanya memberikan penilaian
kuantitatif.

Ada sebuah cerita tentang seorang anak, sebut saja namanya Fani (6,5tahun),
kelas I SD. Ia memiliki banyak sekali teman. Dan ia pun tidak bermasalah
harus berganti teman duduk di sekolahnya. Ia juga bergaul dengan siapa saja
di lingkungan rumahnya. Ada satu hal yang menarik saat ia bercerita
tentang teman-temannya.

"Bu, Ifa pinter sekali lho, Bu...! Pinter Matematika, Bahasa Indonesia,
Menggambar.... pokoknya pinter sekali....!" katanya santai. Vivi juga
pintar sekali menggambar, gambarnya bagus ...sekali! Kalau si Yahya
hafalannya banyaaak... sekali!"

Ya memang fani senang sekali membanggakan teman-temannya. Ketika mendengar
celoteh anaknya ibunya tersenyum dan bertanya, " Kalau mbak Fani pinter
apa?" Ia menjawab dengan cengiran khasnya,"

Hehehe...kalau aku, sih, biasa-biasa saja". Jawaban itu mungkin akan
sangat biasa bagi anda, tetapi ibunya tertegun, karena pada dasarnya fani
memang demikian. Ia biasa-biasa saja untuk ukuran prestasi scholastic.

Tapi coba kita dengarkan apa cerita gurunya, bahwa Fani sering diminta
bantuannya untuk membimbing temannya yang sangat lamban mengerjakan tugas
sekolah, mendamaikan temannya yang bertengkar.

Bahkan ketika dua orang adiknya, Farah (4,5 tahun ) dan Fadila (2,5 tahun)
bertengkar. Fani langsung turun tangan. "Sudah..! sudah, Dek! sama saudara
tidak boleh bertengkar, Hayo tadi siapa yang mulai?" Adiknya saling
tunjuk."Hayo, jujur ...Jujur itu disayang Allah..! Sekarang salaman ya...
saling memaafkan".

Pun ketika suatu hari ia melihat baju-baju bagus di toko, dengarlah
komentarnya! "Wah bajunya bagus-bagus ya Bu? Aku sebenarnya pengin, tapi
bajuku di rumah masih bagus-bagus, nanti saja kalau sudah jelek dan Ibu
sudah punya rezeki, aku minta dibelikan ..." Ibunya pun tak kuasa menahan
air matanya, subhanallah anak sekecil itu sudah bisa menunda keinginan,
sebagai salah satu ciri kecerdasan emosional.

Saya sebenarnya ingin berbagi cerita tentang ini kepada anda, karena betapa
banyak dari kita yang mengabaikan kecerdasan-kecerdasan emosional seperti
itu. Padahal kita tahu dalam setiap tes penerimaan pegawai, yang lebih
banyak diterima adalah orang yang mempunyai kecerdasan emosional walaupun
dari sisi kecerdasan scholastic adalah BIASA-BIASA SAJA.

Kadang kita merasa rendah diri manakala anak kita tidak mencapai ranking
sepuluh besar disekolah. Tetapi herannya, kita tidak rendah diri manakala
anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang egois, mau menang sendiri,
sombong, suka menipu atau tidak biasa bergaul.

Maka ketika Fani mengatakan "AKU BIASA-BIASA SAJA", maka saat itu ibunya
menjawab "Alhamdulillah, mbak Fani suka menolong teman-teman, tidak
sombong, mau bergaul dengan siapa saja. Itu adalah kelebihan mbak Fani,
diteruskan dan disyukuri ya..?" Ya... ibunya ingin mensupport dan
memberikan reward yang positif bagi Fani. Karena kita tahu anak-anak kita
adalah amanah dan suatu saat amanah itu akan diambil dan ditanyakan
bagaimana kita menjaga amanah. Sebagaimana doa kita setiap hari agar
anak-anak menjadi penyejuk mata dan hati.

Sudahkah kita mencoba untuk menggali potensi-potensi kecerdasan emosional
anak-anak kita? Kalau belum mulailah dari diri kita, saat ini juga.

Disarikan Dari : bumi-serpong@yahoogroups.com