...::: Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh :: Selamat datang di Masmuji Blog :::...

...::: ALL ABOUT EMOTIONAL INTELLIGENCE :::...

10 May 2007

KECERDASAN SCHOLASTIC vs KECERDASAN EMOSIONAL

Aku Biasa - Biasa Aja !

Tahukah anda, apa yang paling dibanggakan orang tua dari anak-anaknya?
Boleh jadi adalah kecerdasan scholastic, seperti matematika, bahasa,
menggambar (visual), musik (musical), dan olahraga (kinestetik).

Tetapi, pernahkah kita membanggakan jika anak kita memiliki kecerdasan
moral, kecerdasan intrapersonal, atau kecerdasan interpersonal?

Rasanya jarang, sebab ketiga kecerdasan yang terakhir hampir pasti
uncountable, tidak bisa dihitung, dan sayang sekalin tidak ada pontenya
(nilainya) di sekolah, karena di sekolah hanya memberikan penilaian
kuantitatif.

Ada sebuah cerita tentang seorang anak, sebut saja namanya Fani (6,5tahun),
kelas I SD. Ia memiliki banyak sekali teman. Dan ia pun tidak bermasalah
harus berganti teman duduk di sekolahnya. Ia juga bergaul dengan siapa saja
di lingkungan rumahnya. Ada satu hal yang menarik saat ia bercerita
tentang teman-temannya.

"Bu, Ifa pinter sekali lho, Bu...! Pinter Matematika, Bahasa Indonesia,
Menggambar.... pokoknya pinter sekali....!" katanya santai. Vivi juga
pintar sekali menggambar, gambarnya bagus ...sekali! Kalau si Yahya
hafalannya banyaaak... sekali!"

Ya memang fani senang sekali membanggakan teman-temannya. Ketika mendengar
celoteh anaknya ibunya tersenyum dan bertanya, " Kalau mbak Fani pinter
apa?" Ia menjawab dengan cengiran khasnya,"

Hehehe...kalau aku, sih, biasa-biasa saja". Jawaban itu mungkin akan
sangat biasa bagi anda, tetapi ibunya tertegun, karena pada dasarnya fani
memang demikian. Ia biasa-biasa saja untuk ukuran prestasi scholastic.

Tapi coba kita dengarkan apa cerita gurunya, bahwa Fani sering diminta
bantuannya untuk membimbing temannya yang sangat lamban mengerjakan tugas
sekolah, mendamaikan temannya yang bertengkar.

Bahkan ketika dua orang adiknya, Farah (4,5 tahun ) dan Fadila (2,5 tahun)
bertengkar. Fani langsung turun tangan. "Sudah..! sudah, Dek! sama saudara
tidak boleh bertengkar, Hayo tadi siapa yang mulai?" Adiknya saling
tunjuk."Hayo, jujur ...Jujur itu disayang Allah..! Sekarang salaman ya...
saling memaafkan".

Pun ketika suatu hari ia melihat baju-baju bagus di toko, dengarlah
komentarnya! "Wah bajunya bagus-bagus ya Bu? Aku sebenarnya pengin, tapi
bajuku di rumah masih bagus-bagus, nanti saja kalau sudah jelek dan Ibu
sudah punya rezeki, aku minta dibelikan ..." Ibunya pun tak kuasa menahan
air matanya, subhanallah anak sekecil itu sudah bisa menunda keinginan,
sebagai salah satu ciri kecerdasan emosional.

Saya sebenarnya ingin berbagi cerita tentang ini kepada anda, karena betapa
banyak dari kita yang mengabaikan kecerdasan-kecerdasan emosional seperti
itu. Padahal kita tahu dalam setiap tes penerimaan pegawai, yang lebih
banyak diterima adalah orang yang mempunyai kecerdasan emosional walaupun
dari sisi kecerdasan scholastic adalah BIASA-BIASA SAJA.

Kadang kita merasa rendah diri manakala anak kita tidak mencapai ranking
sepuluh besar disekolah. Tetapi herannya, kita tidak rendah diri manakala
anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang egois, mau menang sendiri,
sombong, suka menipu atau tidak biasa bergaul.

Maka ketika Fani mengatakan "AKU BIASA-BIASA SAJA", maka saat itu ibunya
menjawab "Alhamdulillah, mbak Fani suka menolong teman-teman, tidak
sombong, mau bergaul dengan siapa saja. Itu adalah kelebihan mbak Fani,
diteruskan dan disyukuri ya..?" Ya... ibunya ingin mensupport dan
memberikan reward yang positif bagi Fani. Karena kita tahu anak-anak kita
adalah amanah dan suatu saat amanah itu akan diambil dan ditanyakan
bagaimana kita menjaga amanah. Sebagaimana doa kita setiap hari agar
anak-anak menjadi penyejuk mata dan hati.

Sudahkah kita mencoba untuk menggali potensi-potensi kecerdasan emosional
anak-anak kita? Kalau belum mulailah dari diri kita, saat ini juga.

Disarikan Dari : bumi-serpong@yahoogroups.com

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home