...::: Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh :: Selamat datang di Masmuji Blog :::...

...::: ALL ABOUT EMOTIONAL INTELLIGENCE :::...: November 2007

06 November 2007

Kecerdasan Emosional
By Agung R Harmoko.

Dorongan Melakukan Tindakan
Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak rencana seketika untuk mengatasi masalah yang ditanamkan secara berangsur – angsur yang terkait dengan pengalaman dari waktu – kewaktu. Kata emosi berasal dari bahasa latin yang berarti movere yang diartikan bergerak/ menggerakan dan menjauh. Lebih lanjut dalam kamus bahasa inggris Oxford mendefinisikan emosi sebagai suatu kegiatan atau pergolakan pikiran, suatu keadaan biologisdan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak.

Mengenali jenis – jenis emosi
Kita seringkali mendengar kata – kata emosi namun terkadang kita sulit mengartikan arti kata tersebut. Bentuk emosi yang muncul kerap di rasakan atas sikap yang ditampilkan atas dasar suasana perasaan saat itu. Alangkah baiknya sebelum kita mengenal beberapa contoh emosi yang sering kita rasakan menurut Daniel goleman dalam bukunya yang berjudul kecerdasan emosional, emosi terbagi menjadi :

- Amarah, seperti mengamuk, bengis, benci, jengkel, kesal hati rasa. terganggu, seperti rasa pahit tersinggung merasa hebat dsb.
- Kesedihan, seperti pedih, sedih, asa, kalau, depresi berat.
- Rasa takut , seperti cemas, takut, gugup, khawatir, waspada, tidak senang,tidak tenang, was was, fobia, dan panik.
- Kenikmatan, sepertibahagia, gembira, riangan , puas, terhibur, bangga, takjub, senang sekali, dsb.
- Cinta, seperti penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasih.
- Terkejut, takjub terpana dsb.
- Jengkel hina, jijik, mual, benci, tidak suka, mau muntah dsb,
- Malu, rasa salah, malu hati, kesal hati hina, aib, hancur lebur.

Uraian diatas hanyalah sebagian dari garis besar emosi itu sendiri. Ada begitu banyak emosi yang seringkali kita rasakan, hal ini muncul dikarenakan emosi yang kita rasakan begitu bervariasi dengan campuran emosi satu dengan yang lain, emosi yang begitu cepat berubah dsb.

Apakah Kecerdasan Emosional Itu ?

Saya teringat ketika seorang Pakar Manajemen Strategik di Indonesia yan juga seorang Doktor. Ketika masih kuliah S1 ia merasa kurang pandai secara IQ maupun secara akademis dapat dikatakan “ngepas” ia hanya masuk kuliah hanya dengan kehadiran sekedarnya. Begitu pula ujiannya dan hasil kelulusan S1 nya pun pas – pas an. Semasa kuliahnya ia hanya belajar dengan meminjam catatan dari teman – temannya. Walalupun demikian semasa kuliahnnya ia habiskan untuk bermain dengan teman – teman baik itu di kampus maupun di lingkungannya. Walalupun demikian ia memiliki kesadaran, kepercayaan diri bahwa ia akan berhasil suatu saat nanti. Sampai suatu ketika ia ditawarkan untuk melanjutkan kuliah dengan beasiswa.

Kecerdasan akademis bukan satu – satunya jalan seseorang untuk dapat menuju keberhasilan. Kepandaian secara IQ tidak menjamin individu akan dapat dengan mudah mencapai impiannya/cita – citanya.
John Mayer, psikolog dari University of New Hampshire, mendefinisikan kecerdasan emosi yaitu kemampuan untuk memahami emosi orang lain dan cara mengendalikan emosi diri sendiri. Lebih lanjut pakar psikologi Cooper dan Sawaf (1998) mengatakan bahwa kecerdasan emosional kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh yang manusiawi. Kecerdasan emosi menuntut penilikan perasaan, untuk belajar mengakui, menghargai perasaan pada diri dan orang lain serta menanggapinya dengan tepat, menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari

Dapat disimpulkan Kecerdasan emosi dapat diartikan kemampuan untuk mengenali, mengelola, dan mengekspresikan dengan tepat, termasuk untuk memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, serta membina hubungan dengan orang lain. Jelas bila seorang indiovidu mempunyai kecerdasan emosi tinggi, dapat hidup lebih bahagia dan sukses karena percaya diri serta mampu menguasai emosi atau mempunyai kesehatan mental yang baik.
Walaupun demikian masing masing faktor tersebut merupakan gambaran agar dapat mendefinisikan dan menggambarkan suatu emosi yang kita rasakan. Misalnya jika anda merasakan suatu perasaan yang berbaur campur benci, takut dan sedih ? bagaimana kita menangkap emosi yang sedang dirasakan ? sulit bagi kita untuk menangkap emosi tersebut namun beberapa penelitian di University of California di sanfransisco mereka menyatakan bahwa ekspresi wajah, gesture tubuh dapat dijadikan identifikasi awal kita untuk melakukan identifikasi emosi yang sedang dirasakan saat itu.


Untuk mengembangkan keterampilan kecerdasan emosional kita pakar psikologi Salovey memeberikan beberapa arahan agar kita dapat mengenali dan mengembangkan kecerdasan emosi kita seperti :

1. Mengenali emosi diri kesadaran diri , menegenali perasaan sewaktu perasaan yang dirasakan terjadi merupakan dasar kecerdassan emosional. kemampuan untuk memantau peraaan dari waktu kewaktu merupakan hal penting bagi pemahahaman diri. Ketidakmampuan mencermati perasaan kita sesungguhnya menempatkan kita dalam lingkungan perasaan. Orang yang memiliki kenyakinan yang lebih tentang perasaannya adalah bagaikan seorang pilot yang canggih mampu mengenali kepekaan lebih tinggi akan keadaan emosi yang dirasakan saat itu.

2. Mengelola emosi, menangani perasan agar dapat terungkap dengan pas adalah kecakapan yang tergantung pada keasadaran diri. kemampuan untuk menghibur diri , melepasakan kecemasan kemurungan atau ketersinggungan, atau akibat – akibat yang muncul karena kegagalan keterampilan emosional dasar ini.

3. Memotivasi diri, penataan emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat penting dalam keterkaitan memberi perhatian untuk memotivasi diri sendiridan menguasai diri serta ia mampu melakukan kreasi secara bebas. Pengendalian emosi seperti menahan diri terhadap suatu kepuasaan dan pengendalian dorongan hati sebagai landasan. Keberhasilan dalam berbagai bidang.

4. Memahami emosi orang lain, Kita sering mendengar Kata empat, adalah kemampuan yang juga bergantung pada kesadaaran diri emosional, merupakan keterampilan bergaul/ berinteraksi dengan orang lain. Jika kita diberikan kemampuan empati yang tinggi situasi demikian dapat mengarakan pekerjaan yang cocok untuk individu seperti ini seperti bidang keperawatan, mengajar, penjualan dan manajemen.

5. Membina hubungan,Setelah kita melakukan identifikasi kemudian kita mampu mengenali, hal lain yang perlu dilakukan untuk dapat mengembangkan kecerdsan emosional yaitu dengan memelihara hubungan dengan membina hubungan tersebut. Keterampilan membina hubungan merupakan bagiandari keterampilan sosial hal ini dapat menunjang kita dalam mengembangkan pergaulan. Hal ini dapat dilakukan dengan kita melakukan komunikasi

6. Berkomunikasi “dengan jiwa “, Tidak hanya menjadi pembicara terkadang kita harus memberikan waktu lawan bicara untuk berbicara juga dengan demikian posisikan diri kita menjadi pendengar dan penanya yang baik dengan hal ini kita diharapkan mempu membedakan antara apa yang dilakukan atau yang dikatakan seseorang dengan reaksi atau penilaian. Ingat kita diberikan dua buah telinga dan satu mulut banyaklah mendengar sedikitlah berbicara dengan demikian kita mampu memahami apa yang orang lain inginkan, sehingga kita mampu memposisikan diri kita pada situasi dan kondisi yang tepat.

Siapapun bisa marah – marah itu mudah, tapi marah pada orang tepat dengan kadar yang sesuai pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar dan dengan cara yang baik bukanlah hal yang mudah.
“Aristoeles’

Pentingnya Pendidikan Kecerdasan Emosional


Sejak kecil biasanya siswa diharapkan untuk mempunyai nilai yang bagus di sekolah. Setelah siswa lulus sekolah, mereka diharapkan untuk mendapatkan pekerjaan yang dapat pembantunya meraih “masa depan yang cerah” dan gaji yang tinggi. Banyak orang tua, bahkan para guru, berpikir bahwa nilai tinggi dan lulusan sekolah merupakan jaminan untuk mendapatkan pekerjaan dan kesuksesan dalam karier.

Kenyataan ini memang tidak dapat disangkal. Kemampuan dan nilai akademis yang tinggi dapat membuka banyak pintu bagi kesuksesan seseorang. Akan tetapi, kenyataannya, baik dalam dunia kerja, pribadi, maupun proses belajar mengajar, kemampuan kecerdasan emosional (emotional intelligence) sangat berperan untuk mencapai kesuksesan seseorang. Lapangan kerja yang semakin kompetitif dan spesialis, membuat tidak seorang individu atau institusi mana pun yang dapat mencapai tujuan mereka tanpa harus bekerja sama dalam tim karena setiap orang dipaksa untuk bekerja sama dengan orang lain.

George Lucas, chairman PBS Foundation, mencontohkan bahwa dalam pekerjaannya di bidang pembuatan film, mereka membutuhkan orang-orang yang berbakat dengan keterampilan teknis yang kuat, tetapi kemampuan untuk berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang lain tidak kurang pentingnya. “Salah satu hal yang perlu dilakukan oleh sekolah dalam mempersiapkan anak didik ke dunia nyata ialah dengan mengajarkan mereka kemampuan kecerdasan emosional,” ujarnya menambahkan.

Lalu, apa itu kemampuan kecerdasan emosional? Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali, mengekspresikan, dan mengelola emosi, baik emosi dirinya sendiri maupun emosi orang lain, dengan tindakan konstruktif, yang mempromosikan kerja sama sebagai tim yang mengacu pada produktivitas dan bukan pada konflik.

Seseorang yang mempunyai kecerdasan emosional yang baik akan dapat dikenali melalui lima komponen dasar, yaitu sebagai berikut.
1. Self-awareness (pengenalan diri)
Mampu mengenali emosi dan penyebab dari pemicu emosi tersebut. Jadi, dia mampu mengevaluasi dirinya sendiri dan mendapatkan informasi untuk melakukan suatu tindakan.
2. Self-regulation (penguasaan diri)
Seseorang yang mempunyai pengenalan diri yang baik dapat lebih terkontrol dalam membuat tindakan agar lebih hati-hati. Dia juga akan berusaha untuk tidak impulsif. Akan tetapi, perlu diingat, hal ini bukan berarti bahwa orang tersebut menyembunyikan emosinya melainkan memilih untuk tidak diatur oleh emosinya.
3. Self-motivation (motivasi diri)
Ketika sesuatu berjalan tidak sesuai dengan rencana, seseorang yang mempunyai kecerdasan emosional tinggi tidak akan bertanya “Apa yang salah dengan saya atau kita?”. Sebaliknya ia bertanya “Apa yang dapat kita lakukan agar kita dapat memperbaiki masalah ini?”.
4. Empathy (empati)
Kemampuan untuk mengenali perasaan orang lain dan merasakan apa yang orang lain rasakan jika dirinya sendiri yang berada pada posisi tersebut.
5. Effective Relationship (hubungan yang efektif)
Dengan adanya empat kemampuan tersebut, seseorang dapat berkomunikasi dengan orang lain secara efektif. Kemampuan untuk memecahkan masalah bersama-sama lebih ditekankan dan bukan pada konfrontasi yang tidak penting yang sebenarnya dapat dihindari. Orang yang mempunyai kemampuan intelegensia emosional yang tinggi mempunyai tujuan yang konstruktif dalam pikirannya.

Seseorang yang tidak mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi dapat ditandai dengan hal-hal berikut: mempunyai emosi yang tinggi, cepat bertindak berdasarkan emosinya, dan tidak sensitif dengan perasaan orang lain. Orang yang tidak mempunyai kecerdasan emosional tinggi, biasanya mempunyai kecenderungan untuk menyakiti dan memusuhi orang lain.

Dalam dunia kerja, orang-orang yang mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi sangat diperlukan, terlebih dalam tim untuk mencapai tujuan tertentu. Karenanya, orang tua dan para guru harus memupuk kecerdasan emosional sejak dini.

(Dameria)

Sumber: Education for the Heart, As Well as the Mind dan Emotional Intelligence, An Important Concern for Parent and Teachers of Every Student).

01 November 2007

Sabar : Kunci Kecerdasan Emosi


Sabar : Kunci Kecerdasan Emosi (1)


Kecerdasan merupakan ciri keunggullan manusia dalam memahami ,

memutuskan dan mengantisipasi. Kecerdaasan seseorang sering tidak

dapat difahami seketika oleh orang kebanyakan , tetapi kemudian

menjadi kajian yang tak habis-habisnya setelah menjadi sejarah. Dalam

perspektip ini jarak antara orang cerdas dengan orang gila sebenarnya

sangat tipis, sehingga gagasan-gagasan orang cerdas sering dianggap

gagasan gila. Kecerdasan seseorang memungkinkannya memiliki jarak

pandang yang jauh, dua, tiga atau lebih dimensi, sementara orang

kebanyakan hanya mampu melihat satu atau maksimal dua dimensi.

Pada umumnya kecerdasan dihubungkan dengan akal (intelektuil), tetapi

kecerdasan intelektual ternyata belum menjamin ketepataan keputusan,

sehingga dewasa ini orang sudah mulai membicarakan tentang kecerdasan

yang lain, yaitu kecerdasan emosionil dan kecerdasaan spirituil.

Kecerdasan intelektuil diwujudkan dalam kemampuan berfikir. Menurut

Asfihani, fikiran adalah potensi yang dapat mengantar pengetahuan

sampai kepada obyek (quwwatun mudrikatun li al `ilmi ila al ma`lum),

sedangkan berfikir artinya menggunakan potensi itu sesuai dengan

kapasitas intelektualnya.

Dalam kehidupan, berfikir diperlukan untuk (a) memecahkan masalah

(problem solving), (b) mengambil keputusan (decision making) dan ©

melahirkan sesuatu yang baru (kreatifitas). Karena kecerdasan

merupakan keunggulan maka hal itu dapat diukur kualitasnya, antara

lain melaui metode yang digunakan (deduksi,induksi), atau dilihat

seberapa tingkat kreatifitasnya (metode berfikir kreatip). Metode

berfikir kreatip sering tidak bisa difahami orang lain, dan prosesnya

melalui tahapan-tahapan, dari (a) orientasi, (b) Preparasi, ©

Inkubasi, (d) Iluminasi dan (e) Verifikasi. Orang yang bisa berfikir

kreatip biasanya mempunyai ciri-ciri : (1) meemiliki kecerdasan

diatas rata-rata, (2) memiliki sifat terbuka dan (3) memiliki sifat

bebas, otonom dan percaya diri.

Jika kecerdasan intelektuil diwujudkan dalam berfikir, maka

kecerdasan emosi diwujudkan dalam merasa. Manusia memang makhluk yang

berfikir dan merasa. Emosi nampak dalam perubahan fisik yang

diakibatkan oleh peristiwa mental, seperti : muka merah (karena

malu), muka pucat, tubuh gemetar, terkencing (karena takut) otot

mengencang (karena marah) ,mata terpejam dan menangis (karena haru

atau gembira) dan sebagainya. Emosi adalah perubahan jasmani langsung

mengikuti persepsi mengenai kenyataan yang menggairahkan.

Dalam kehidupan, kita mengenal berbagai tipologi manusia dilihat dari

sudut ini, misalnya ada orang yang sangat pemalu disamping yang tidak

tahu malu, yang penakut, disamping yang pemberani, yang sangat perasa

disamping yang sudah mati rasa atau tidak berperasaan, yang pemarah

disamping yang penyabar. dan sebagainya. Jika kecerdasan intelektual

bisa diasah, demikian juga kecerdasan emosi dapat dirangsang.

Kecerdasan emosi ditandai dengan kemampuan pengendalian emosi ketika

menghadapi kenyataan yang menggairahkan (menyenangkan, menakutkan,

menjengkelkan, memilukan dsb). Kemampuan pengendalian emosi itulah

yang disebut sabar, atau sabar merupakan kunci kecerdasan emosional.

Adapun kecerdasan spirituil merupakan kualitas kehidupan ruhaniah

seseorang dimana seseorang dimungkinkan berkomunikasi secara

rohaniah, baik secara horizontal maupun vertikal. Memahami kecerdasan

spirituil akan mudah jika menggunakan paradigma tasauf.

Sabar : Kunci Kecerdasan Emosi (2)

Pengertian sabar adalah tabah hati tanpa mengeluh dalam menghadapi

godaan dan rintangan dalam jangka waktu tertentu dalam rangka

mencapai tujuan. Dalam agama, sabar merupakan satu diantara stasiun-

stasiun (maqamat) agama, dan satu anak tangga dari tangga seorang

salik dalam mendekatkan diri kepada Allah. Struktur maqamat agama

terdiri dari (1) Pengetahuan (ma`arif) yang dapat dimisalkan sebagai

pohon, (2) sikap (ahwal) yang dapat dimisalkan sebagai cabangnya, dan

(3) perbuatan (amal) yang dapat dimisalkan sebagai buahnya. Seseorang

bisa bersabar jika dalam dirinya sudah terstruktur maqamat itu. Sabar

bisa bersifat fisik, bisa juga bersifat psikis.

Karena sabar bermakna kemampuan mengendalikan emosi, maka nama sabar

berbeda-beda tergantung obyeknya.

1. Ketabahan menghadaapi musibah, disebut sabar, kebalikannya adalah

gelisah (jaza`) dan keluh kesah (hala`)

2. Kesabaran menghadapi godaan hidup nikmat disebut, mampu menahan

diiri (dlobth an Nafs), kebalikannya adalah tidak tahanan (bathar).

3. Kesabaran dalam peperangan disebut pemberani, kebalikannya disebut

pengecut

4. Kesabaran dalam menahan marah disebut santun (hilm), kebalikannya

disebut pemarah (tazammur)

5. Sabar dalam menghadapi bencana yang mencekam disebut lapang dada,

kebalikannya disebut sempit dadanya.

6. Sabar dalam mendengar gossip disebut mampu menyembunyyikan rahasia

(katum).

7. Sabar terhadap kemewahan disebut zuhud, kebalikannya disebut

serakah, loba (al hirsh).

8. Sabar dalam menerima yang sedikit disebut kaya hati (qana`ah),

kebalikannya disebut tamak, rakus (syarahun)

Sabar : Kunci Kecerdasan Emosi (3)

Rangking Sabar


Ada tiga tingkatan orang sabar :

1. Orang yang dapat menekan habis dorongan hawa nafsu hingga tidak

ada perlawanan sedikitppun, dan orang itu bersabar secara konstan.

Mereka adalah orang yang sudah mencapai tingkat shiddiqin.

2. Orang yang tunduk total kepada dorongan hawa nafsunya sehingga

motivasi agama sama sekali tidak dapat muncul. Mereka termasuk

kategori orang-orang yang lalai (al ghofilun).

3. Orang yang senantiasa dalam konflik antara dorongan hawa nafsu

dengan dorongan keberagamaan. Mereka adalah orang yang

mencampuradukkan kebenaran dengan kesalahan.

Secara ppsikologis, tingkatan orang sabar dapat dibagi menjadi tiga,

yaitu :

1. Orang yang sanggup meninggalkan dorongan syahwat. Mereka termasuk

kategori orang-orang yang bertaubat (at Taibin).

2. Orang yang ridla (senang/puas) menerima apapun yang ia terima

dari Tuhan, mereka termasuk kategori zahid.

3. Orang yang mencintai apapun yang diperbuat Tuhan untuk dirinya,

mereka termasuk kategori shidddiqin.

Sabar : Kunci Kecerdasan Emosi (4)

Hukum sabar.

Meski sabar itu konotasinyya positip, tetapi belum tentu tepat. Oleh

karena itu hukum sabar terbagi tiga, yaitu wajib, sunnat dan makruh.

Menyaksikan anggauta keluarganya terlibat maksiat misalnya, bersabar

dalam arti tabah hati tanpa mengeluh adalah makruh, tetapi sabar

ketika selalu gagal dalam berusaha memperbaiki mereka adalah wajib.

Kembali kepada pengertian sabar : tabah hati tanpa mengeluh dalam

menghadapi rintangan dalam jangka waktu tertentu dalam rangka

mencapai tujuan, maka kunci kesabaran adalah kesadaarn atas tujuaan

yang ingin dicapai. Orang yang lupa tujuan biasanya tidak mampu

mengendalikan emosi ketika menghadapi keadaan yang tidak mengenakkan.

Tetapi sabar juga ada batasnya, oleh karena itu kesabaran harus

selalu dievaluasi secara dinamis. Kesabaran juga biasanya berhubungan

erat dengan perasaan syukur. Artinya orang yang pandai berterima

kasih biasanya ia penyabar, sedangkan orang yang tidak mengerti

berterima kasih (kufr ni`mat) biasanya emosinya mudah digelitik.

Dalam usaha problem solving menyangkut berbagai urusan kehidupan,

sabar merupakan kekuatan yang sangat besar dan efektip. Oleh karena

itu al Qur’an secara jelas mengingatkan agar dalam upaya memohon

pertolongan kepada Tuhan, jangan lupa membangun infrastruktur

psikologinya yang terdiri dari kesabaran dan doa (salat). Ya

ayyuhalladzina amanu ista`inu bis sobri was salat, innalloha ma`a as

sobirin (Q/2:153).

dikutip dari milis DT postingan dari :

agussyafii

http://mubarok-institute.blogspot.com